Penulis: Frans Johannsson
Terjemahan, November 2007.
Serambi
“Aduuuh… mikirnya jangan loncat-loncat dong. Pengennya banyak banget sih? Fokus dong!”
Sering enggak dapat komentar seperti itu? Kalau iya, jangan dulu kecil hati. Sesuatu yang dinilai sebagai implementasi sikap yang tidak fokus itu, bisa jadi merupakan bagian kecil upaya otak Anda mencari area titik temu. Hm, apa tuh?
Istilah efek Medici dipakai oleh Frans Johansson untuk menggambarkan ledakan-ledakan kreativitas yang dashyat sebagai hasil dari titik pertemuan antar disiplin ilmu. Medici sendiri ialah nama keluarga bankir di Italia pada abad 15. Mereka mendananai para pencipta gagasan dari beragam disiplin ilmu mulai dari pematung, ilmuwan, penyair, filsuf, ahli keuangan hingga arsitektur berkumpul di Florence. Lantas kita tahu, kota itu menjadi episentrum ledakan kreatif ditandai dengan munculnya era Renaisans, salah satu era paling inovatif dalam sejarah peradaban manusia.
Pada masa sekarang, Johansson menggunakan istilah The Medici Effect sebagai area persilangan ilmu dan atau budaya. Jika aliran Rock dipadu dengan klasik, maka hasilnya ialah album Tubular Bells yang terjual 16 juta copy dan melambungkan nama pemusik Mike Oldfield sekaligus juga Richard Branson yang sukses berat dengan Virgin Groupnya , hingga saat ini.
Jika teknik arsitektur berpadu dengan ilmu ekosistem alam, maka hasilnya ialah Eastgate, komplek pertokoan di Harare Zimbabwe yang melambungkan nama Mick Pearce sebagai inovator perintis bidang arsitektur baru yang meniru konsep alam. Eastgate bukan sekadar pertokoan biasa. Pearce menjadikannya istimewa karena ia mampu menjaga suhu stabil pertokoanpada kisaran 23-25 derajat celcius TANPA AC karena meniru cara kerja rayap mendinginkan sarang-sarang mereka.
Johansson memaparkan pada kita, betapa luasnya kemungkinan tercipta jika saja kita mau memasukkan ide secara serampangan ke dalam otak, dan lepas dari asosiasi-asosiasi penghalang yang menetap di bawah alam sadar kita.
Buku ini tak cuma mencomot fakta-fakta manusia yang sukses menciptakan efek medici nya sendiri. Johanssen juga mencatatkan beberapa tips, bagaimana memunculkan ide titik temu. Termasuk didalamnya ialah bagaimana menghasilkan banyak ide secara aktif, dan memperlakukan sesi brainstorming yang optimal (ia menjelaskan hasil penelitian yang menunjukkan jumlah ide kreatif hasil braisntorming yang dikerjakan secara berkelompok hanya setengah dari ide yang dihasilkan dari brainstorming personal)
Namun, Johansson juga secara tegas menentukan batas “seberapa serampangan” agar kita bisa memaksimalkan area titik temu antar bidang. Menurutnya, kedalaman tentang suatu bidang tetap diperlukan. Namun perlu membuka diri bagi informasi-informasi baru dan mencatatnya hingga waktu yang dibutuhkan memunculkan ide itu tiba.
Menurutnya, saat ini kita akan lebih sering bertemu fenomena munculnya inovasi dari area titik temu. Karena menurut Johansson, kebangkitan titik temu didorong oleh tiga faktor, yaitu perpidahan orang, konvergensi ilmu pengetahuan dan lompatan pemanfaatan komputer. Ya, tidak ada lagi ilmu yang tunggal, karena semua nya kini berarah pada ilmu lintas disiplin.
Well, membaca The Medici Effect mengingatkan saya pada sebuah point penting dalam tulisan Friedman-World is Flat - bahwa : Tidak penting apakah kamu ialah seorang generalis (banyak bisa tapi setengah-setengah) atau spesialis, karena yang dibutuhkan dunia dalam peradaban ini ialah manusia yang adaptif, yang cepat menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman sehingga cepat juga mengambil keuntungan. Dalam buku ini Johansson banyak mengetengahkan contoh-contoh kesuksesan bisnis berkat optimisasi titik temu.
Jadi, pesan yang saya dapat dari buku ini barangkali : jangan terlalu bangga dulu sih kalo menjadi orang yang FOKUS. Salah-salah malah mematikan area persilangan ide yang platinum. Mungkin lebih pas kalau yang dituntut ialah prioritas. Karena itu mengacu pada target pencapaian dan waktu, bukan tentang apa yang dipikirkan otak. dan sau lagi, otak manusia itu ruarrrr biasa.

