Teman-teman, ini aku postingkan postingan dari seseorang
yang ketemu Andrea 'ikal' Hirata. Pengalamannya cukup
menarik dan memberi gambaran tentang karakter pribadi
Andrea yang hangat dan terbuka.
o--Gali--o
Sengatan Si "Ikal'Kemarin siang, selagi asyik menikmati makan siang dengan menu Sari Bundo di
kawasan Gegerkalong, tak dinyana sesosok yang membuat dunia buku bergairah
sedang duduk anteng di seberang ruangan dengan sesekali celingukan ke luar.
Wah.. itu dia 'Si Ikal' komandan Lasykar Pelangi. "Hari yang bagus nih..seru
teman-teman. Ayo kita serbu untuk ngobrol-ngobrol...." Awalnya saya ragu, takut
mengganggu, soalnya si Ikal agak menyembunyikan penampilannya denga menutup
rambut ikalnya dengan topi. Tapi ternyata...dia malah senang ditemani sambil
menunggu seseorang.
Pertanyaan pertama langsung menyengat saya ketika baru saja selesai salaman,
"Terpikir tidak seorang satrawan(penulis) dibayar 30 juta untuk satu jam
bicara?" Belum sempat saya menjawab karena menerka-nerka arah bicaranya..serta
merta keluarlah deraian tawanya. "Itu..terjadi sekarang," katanya. Ternyata si
Ikal memang pasang tarif untuk presentasi bisa seharga 30 juta. Luar biasa!
Sebelum saya berpikiran aneh-aneh, dia bercerita banyak tentang prinsipnya yang
ingin memberi apresiasi yang tinggi terhadap karya satra. Dia ingin masyarakat
menghargai buku. Dan, dia senang ternyata untuk menghadiri diskusi bukunya orang
harus rela antre dengan membayar seharga tiket konser musik. Memang tidak setiap
kesempatan dia minta dibayar mahal, ada beberapa kategori tarif yang diterapkan.
Malah, ada juga yang gratisan terutama untuk lingkungan pesantren. Jadi
bergantung siapa yang ngundang dan siapa yang akan hadir. Hebat ya...
Apa saja yang dibahasnya dalam diskusi buku-bukunya? Kalau tidak salah dengar,
dia sudah menghadiri event diskusi buku lebih dari 150 kali. Saya curiga
jangan-juangan dia kesana-kemari hanya cerita seputar Lasykar Pelangi, Sang
Pemimpi, dan Edensor.., atau cerita proses kreatifnya. Ternyata jawabannya
sungguh menyengat saya, dia selalu mempersiapkan materi bicaranya sesuai dengan
kebutuhan pengunjung. Tidak usah heran kalau ternyata dia ketika presentasi
malah membahas ilmu manajemen, kiat belajar sukses, atau cara mengajar efektif
yang semua materinya betul-betul dipersiapkan dengan matang. Maka, dimana pun
dia bicara, dijamin tidak akan ada repetisi materi. Luar Biasa. Dan, satu hal
lagi yang unik, dia senang kalau diskusi buku dengan orang-orang 'yang tidak
pernah baca buku'. "Cobalah diskusi dengan emang-emang becak, dengan bobotoh
persib misalnya," sarannya. "Masa diskusi buku hanya dihadiri orang-orang buku
saja. Mana ada ide-ide segar?"
celotehnya. Benar juga ya...
Banyak hal lain yang membuat saya betah mendengar celotehannya, terutama ketika
mengomentari kiprah orang-orang buku saat ini yang terlalu mempersoalkan teks
tinimbang konteks.
Terima kasih Bung Andrea'Ikal' Hirata. Lain kali harus mau saya undang dengan
tarif pesantren ya...
Abdul raup
http://groups.yahoo.com/group/pasarbuku/message/49221